Tampilkan postingan dengan label allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label allah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Januari 2015

Karna Allah Yang Mempertemukan Kita

Allah mempertemukan kita, bukan tanpa alasan.
Entah untuk belajar, atau untuk mengajarkan.
Entah untuk sesaat, atau justru selamanya.
Entah untuk menjadi bagian terpenting, atau malah hanya sekedar bagian yang pernah ada.
Entah untuk menjadi masa lalu, atau masa depan.
Entah juga untuk dikenang, ataukah dilupakan.
Apa kita pernah tahu jawabannya?
Kecuali kita mencari, apa kita akan menemukan alasannya?
Kita pasti akan terus menyesal atas apa yang telah terjadi.
Entah menyesali keterlanjuran, atau menyesali keterlambatan.
Tersisa satu lagi selain menyesal, yaitu syukur.
Sama saja.
Mensyukuri keterlanjuran, dan mensyukuri keterlambatan.
Kita tak bisa menepis dua hal itu.
Antara menyesali, kenapa semua hal ‘itu’ terjadi pada diri kita,
Atau mensyukuri atas terjadinya hal ‘itu’ pada diri kita.
Antara menyesali keterlambatan, kenapa hal ‘itu’ tak terjadi sejak awal,
Atau, mensyukuri keterlambatan hal ‘itu’ oleh sebab banyak hal yang telah ada sebelumnya.
Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik di waktu tersebut.
Lakukan, dan jalani dengan tulus.
Meski tidak menjadi seperti apa yang kita inginkan,
Tapi tak ada yang sia-sia.
Alasannya mudah saja,
“Karna Allah yang mempertemukan kita”.

Insp :: Dini Islamiyati

Jumat, 12 Desember 2014

Mangkuk, Madu dan Sehelai Rambut

Perbandingan antara sebuah mangkuk, madu, dan sehelai rambut
-          Abu Bakar Ash-Shiddiq     :      Keimanan, lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Orang yang beriman lebih manis daripada madu. Dan mempertahankan keimanan lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.
-          Umar bin Khattab         :      Kerajaan lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Seorang Raja lebih manis daripada madu. Tapi menjadi pemimpin yang adil lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.
-          Utsman bin ‘Affan         :      Ilmu lebih cantik daripada mangkuk. Orang yang berilmu lebih manis daripada madu. Tapi mencari orang yang mengamalkan ilmunya lebih sulit dari meniti sehelai rambut.
-          Ali bin Abi Thalib          :      Tamu lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Menjamu tamu lebih manis daripada madu. Dan membuat tamu senang serta kembali ke rumah untuk bertamu lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.
-          Fatimah Az-Zahra        :      Seorang wanita sholihah lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Wanita yang berkerudung dan menutup aurat lebih manis daripada madu. Tapi mendapatkan wanita yang tak pernah disentuh laki-laki selain mahromnya lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.
-          Rasulullah S.A.W           :      Orang yang mendapat taufik lebih cantik daripada mangkuk. Orang yang beramal dengan amal perbuatan lebih manis daripada madu. Tapi beramal dengan ikhlas lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.
-          Malaikat Jibril alaihissalam :      menegakkan pilar-pilar Islam lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Menyerahkan diri, harta, waktu serta dunianya demi Islam lebih manis daripada madu. Dan mempertahankan Islam juga Aqidah lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.

-          Allah ta’ala                :      Syurga lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Nikmatnya syurga lebih manis daripada madu. Tapi meniti jalan ke syurga lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.