Tampilkan postingan dengan label kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Februari 2015

Mungkin, Ini Waktunya Untuk Mengalah

Ribuan, bahkan jutaan detik telah kita lalui bersama.
Beragam canda, juga derai tangis telah kita alami.
Sendu rasanya hati saat sedikit saja menjauh darimu.
Kosong rasanya tawa, juga canda ini saat tak ada dirimu di sisi.
Ingin rasanya waktu berhenti, membiarkan kita menghabiskan setiap momen bersama..
Untuk sekarang, dan seterusnya.

Hari demi hari menjadi saksi bahwa hati kita pernah saling jatuh satu sama lainnya.
Helai dedaunan kering yang melambai tertiup angin juga menjadi saksi bahwa kita pernah saling tersipu malu saat saling menatap mata dalam-dalam.

Haruskah aku bertanya,
Ada apa sebenarnya dengan diri kita?
Ada apa sebenarnya?
Mengapa jantung seolah berdegub begitu kencang dan begitu tak beraturannya saat kita bertemu?
Mengapa sudut bibir seolah tertarik ke bawah saat satu dari kita mengucap "Sampai Jumpa" di ujung tiap pertemuan kita?
Mengapa mata seolah mendung dan memuntahkan lahar beningnya saat diri merasakan sesak rindu dalam dada?

Hati kita lebih tahu, kurasa.
Bahwa kita memang pernah menyayangi satu sama lain.
Hati kita lebih tahu, kurasa.
Bahwa kita memang benar-benar jatuh cinta saat itu.

Tapi, secepat itukah segalanya berubah?
Secepat itukah rasa sayang itu memudar?
Semudah itukah rasa cinta kita pupus dan menghilang?

Apa ini saatnya aku sadar kalau aku bukanlah wanita yang benar-benar kau impikan?
Atau apakah ini saatnya aku mengerti kalau aku bukanlah yang terbaik untukmu?
Apa ini saatnya aku menerima kenyataan kalau wanita lainlah yang sebenarnya lebih pantas untukmu?
Dan bukan aku?
Bukan.
Memang bukan.

Mungkin, memang benar,
Ini waktunya bagiku untuk mengalah..

Kamis, 29 Januari 2015

Karna Allah Yang Mempertemukan Kita

Allah mempertemukan kita, bukan tanpa alasan.
Entah untuk belajar, atau untuk mengajarkan.
Entah untuk sesaat, atau justru selamanya.
Entah untuk menjadi bagian terpenting, atau malah hanya sekedar bagian yang pernah ada.
Entah untuk menjadi masa lalu, atau masa depan.
Entah juga untuk dikenang, ataukah dilupakan.
Apa kita pernah tahu jawabannya?
Kecuali kita mencari, apa kita akan menemukan alasannya?
Kita pasti akan terus menyesal atas apa yang telah terjadi.
Entah menyesali keterlanjuran, atau menyesali keterlambatan.
Tersisa satu lagi selain menyesal, yaitu syukur.
Sama saja.
Mensyukuri keterlanjuran, dan mensyukuri keterlambatan.
Kita tak bisa menepis dua hal itu.
Antara menyesali, kenapa semua hal ‘itu’ terjadi pada diri kita,
Atau mensyukuri atas terjadinya hal ‘itu’ pada diri kita.
Antara menyesali keterlambatan, kenapa hal ‘itu’ tak terjadi sejak awal,
Atau, mensyukuri keterlambatan hal ‘itu’ oleh sebab banyak hal yang telah ada sebelumnya.
Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik di waktu tersebut.
Lakukan, dan jalani dengan tulus.
Meski tidak menjadi seperti apa yang kita inginkan,
Tapi tak ada yang sia-sia.
Alasannya mudah saja,
“Karna Allah yang mempertemukan kita”.

Insp :: Dini Islamiyati

Kamis, 22 Januari 2015

Sebuah Malam dan Sebuah Rindu

Malam lagi. Entah malam yang keberapa, yang jelas malam ini aku merindu lagi. Pada dirinya yang baru saja kutemui. Kata orang, kita bisa merindu orang yang baru sedetik lalu ditemui, ternyata benar. Aku merasakan rindu itu.
Ini kali kesekian aku memimpikan dirinya. Memimpikan ia yang hadir menemani sepiku disini. Kata orang juga, kita hanya akan memimpikan seseorang jika kita merindukannya. Atau minimal, memikirkannya. Aku tak sedang memikirkannya, kurasa. Aku merindukannya.
Aku benci mengakui ini, tapi aku sudah ribuan kali mengatakan kalau aku merindu. Tapi, aku bisa apa? Dia bukan milikku. Akupun bukan miliknya. Hanya harapan yang ada diantara kita.
Aku malu mengakui bahwa aku merindu, tapi apa daya, hati seolah berontak untuk segera menyampaikan getir rindu padanya. Aku merindukan candanya, aku rindu tawanya, aku rindu melihat wajah letihnya yang dihiasi senyuman, aku rindu menemani sepinya, aku rindu menghabiskan waktu berdua saja dengannya. Aku rindu segala yang ada pada dirinya.
Aku juga tak mau mengakui kalau aku tak mau kehilangan dirinya. Aku tak ingin jauh darinya. Rasa ini berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Aku benar-benar dibuat tak berdaya oleh rasa ini. Apa ini yang dikatakan cinta? Lalu, yang kemarin-kemarin itu apa? Bukan cinta-kah?
Aku menginginkan dirinya. Aku hampa, hilang tanpa sisa tanpa dirinya. Bayangkan jika segalanya terjadi padanya. Aku hilang dari hidupnya. Akankah dia merindukan aku? Akankah dia mencari aku? Akankah ia takut jika aku benar-benar pergi?
Katakan padaku, aku bisa apa selain berharap dan berdoa? Aku bisa apa selain berusaha memantaskan diri? Aku bisa apa selain memasrahkan hati pada Yang Maha Menguasai hati?
Satu hal yang ku harapkan saat ini, ku harap tak lagi hatiku tersakiti. Jangan lagi. Cukup. Aku terlalu lemah untuk menjaga hatiku saat ini. Aku terlanjur membiarkan hatiku memandang dia. Aku terlanjur membiarkan hatiku menyimpan rasa padanya. Tolong jaga hatiku, tolong jangan coba-coba menyakiti hati ini. Aku hanya punya satu hati, dan hanya dia yang hatiku percaya saat ini.

Dan jikapun nanti, dia bukan milikku, biarkan hati ini terdiam dengan lukanya sendiri. Jikapun nanti aku bukan miliknya, maka biarkan juga rasa ini hilang terpendam waktu. Meski kutahu, rasa ini takkan hilang semudah itu..

Jumat, 31 Oktober 2014

In Memory, 2014

Dear, kamu..
Kau tahu?

Aku kehilangan detik..
Detik dimana aku bisa menatap binar matamu dari kejauhan..
Detik dimana aku bisa melihat tawamu dari sisi jendela..

Dear, kamu..
Aku kini juga kehilangan momen..
Momen dimana aku bisa duduk di sisimu,
Mendengar tawamu..
Dan menyimak senda gurau juga berbagai kisah yang selalu berhasil membuatku terpaku..

Aku pun kehilangan kenangan..
Kenangan dimana aku, dan kamu duduk bersama..
Menatap gelapnya langit malam sambil sesekali berbagi pandangan mata dan seulas senyum di bibir..

Aku juga kehilangan kesempatan..
Kesempatan untuk aku dan kamu membicarakan idealisme masa depan yang didamba…
Kesempatan untuk aku tahu, bagaimana pandanganmu tentang masa depan..
Kesempatan untuk aku mempelajari imajinasimu, lalu membandingkannya dengan milikku..



Ah, tidak..
Sebenarnya,..
Aku kehilangan kamu.




Ya, kamu.




Kamu yang selalu ada saat aku membutuhkan orang lain di sisiku.
Kamu yang selalu hadir bahkan sebelum aku memanggil namamu untuk menemani.
Kamu yang selalu bisa membuat suasana hatiku kembali cerah disaat aku butuh mentari dibalik tudung awan hitam di hati.
Kamu yang selalu mengerti apa yang hatiku butuhkan meski terkadang, kepalaku menginginkan hal lain.
Tapi tetap, kau selalu faham mana yang terbaik untukku.


Aku rindu kebersamaan itu..
Salahkah?
Salahkah aku merindukanmu?


Ah, mungkin bukan itu pertanyaannya..

Aku merindukanmu.
Apa kau juga merindukan aku sebagaimana aku mengharapkan hadirmu di sisiku?
Apa kau juga mencariku saat aku tak lagi ada di dekatmu?
Apa kau merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasa saat ini?
Apa hatimu menggetarkan getaran yang sama seperti hatiku yang selalu bergetar kacau saat bersamamu?
Apa kau selalu nyaman bersamaku?
Apa senyummu adalah senyum tulus yang kau lengkungkan setiap kali aku melemparkan gurauan kecil?


Bisakah ku dapatkan jawaban dari salah satu pertanyaan itu darimu?
Mungkinkah kebersamaan kita kembali hadir menimbulkan percikan hangat seperti saat sebelumnya?


Dear, kamu..
Kuharap kau mengerti maksud hatiku menuliskan baris kalimat retoris ini.
Kuharap kau faham.
Dan kuharap kau (kembali) tahu apa yang sebenarnya kuinginkan.


#InMemory 2014