Tampilkan postingan dengan label rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rindu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 April 2015

Tangis Ditengah Hujan

"Hujan lagi", katamu..
Tak seperti orang lain, kau selalu mengucapkannya sambil tersenyum.
Iya, aku tahu.
Disaat orang lain sibuk mengutuki derasnya rinai hujan yang membuat mereka tak bisa beraktifitas, kau justru mensyukuri setiap tetes bening air.
"Hujan terlalu indah untuk dirutuki", katamu.
Jika disetiap tetes air terdapat satu berkah dari Tuhan, maka berapakah berkah yang Dia turunkan dalam sekali hujan?

Engkau, dengan senyum tulusmu begitu memuja hadirnya hujan.
Bagimu, yang memiliki kehidupan di persawahan, hujan itu sumber penghidupan.
Bagimu, yang menanam beberapa tanaman di kebun rumah, hujan itu jantung bagi manusia.

Katamu, "Hujan itu Romantis"
Setiap kali hujan turun, kau ingat aku.
Setiap kali desau angin terasa dingin dan sejuk, kau ingat aku yang seringkali merasa kedinginan saat bersamamu.
Setiap kali kau menghampiri tungku penghangat disaat hari hujan, kau ingat aku yang tak pernah sanggup bertahan jika berhadapan dengan dinginnya hujan.
Kau juga selalu mengingatku saat langit baru saja membentuk armada besar berwarna gelap di semesta angkasa. Mengingatkanmu pada tawaku yang selalu memberitahu bahwa hujan, kesukaanmu, akan segera turun.

Kau tahu?
Sebenarnya semua kebiasaanmu mengingatku itu kini sangat mengangguku.
Menyebalkan.
Kini aku selaku mengingatmu jika memandang langit.
Lihatlah keluar, desau angin yang begitu sejuk, juga gerombolan awan-awan hitam telah berkumpul padat. Menandakan bahwa sebentar lagi, hujan yang amat kau suka, akan segera turun.

Tuhan,
Ini benar-benar menyebalkan.
Aku sedang berusaha untuk tak merindukanmu.
Tapi langit seolah meledekku dan berusaha membuatku untuk meninggalkan usahaku.
Entah kenapa, semakin aku berusaha untuk lupa, semakin rindu rasanya hati ini padamu.

Lihatlah keluar, aku berdiri ditengah hujan, melupakan rasa dingin yang seolah menusuk tulangku.
Semakin banyak tetes hujan yang menyentuh kulitku, semakin banyak pula memori-memori tentang kebersamaan kita muncul ke alam pikiranku.
Membuatku semakin sadar kalau aku amat sangat merindukanmu.
Dan membuatku sadar bahwa rindu itu hanya sekedar rindu yang tak bisa kulepaskan dalam sebuah pertemuan.
Tapi,
Aku bisa apa?
Aku hanya mampu terdiam disini, menyisipkan bisik rindu dalam luapan tangis di tengah hujan..

Kamis, 22 Januari 2015

Sebuah Malam dan Sebuah Rindu

Malam lagi. Entah malam yang keberapa, yang jelas malam ini aku merindu lagi. Pada dirinya yang baru saja kutemui. Kata orang, kita bisa merindu orang yang baru sedetik lalu ditemui, ternyata benar. Aku merasakan rindu itu.
Ini kali kesekian aku memimpikan dirinya. Memimpikan ia yang hadir menemani sepiku disini. Kata orang juga, kita hanya akan memimpikan seseorang jika kita merindukannya. Atau minimal, memikirkannya. Aku tak sedang memikirkannya, kurasa. Aku merindukannya.
Aku benci mengakui ini, tapi aku sudah ribuan kali mengatakan kalau aku merindu. Tapi, aku bisa apa? Dia bukan milikku. Akupun bukan miliknya. Hanya harapan yang ada diantara kita.
Aku malu mengakui bahwa aku merindu, tapi apa daya, hati seolah berontak untuk segera menyampaikan getir rindu padanya. Aku merindukan candanya, aku rindu tawanya, aku rindu melihat wajah letihnya yang dihiasi senyuman, aku rindu menemani sepinya, aku rindu menghabiskan waktu berdua saja dengannya. Aku rindu segala yang ada pada dirinya.
Aku juga tak mau mengakui kalau aku tak mau kehilangan dirinya. Aku tak ingin jauh darinya. Rasa ini berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Aku benar-benar dibuat tak berdaya oleh rasa ini. Apa ini yang dikatakan cinta? Lalu, yang kemarin-kemarin itu apa? Bukan cinta-kah?
Aku menginginkan dirinya. Aku hampa, hilang tanpa sisa tanpa dirinya. Bayangkan jika segalanya terjadi padanya. Aku hilang dari hidupnya. Akankah dia merindukan aku? Akankah dia mencari aku? Akankah ia takut jika aku benar-benar pergi?
Katakan padaku, aku bisa apa selain berharap dan berdoa? Aku bisa apa selain berusaha memantaskan diri? Aku bisa apa selain memasrahkan hati pada Yang Maha Menguasai hati?
Satu hal yang ku harapkan saat ini, ku harap tak lagi hatiku tersakiti. Jangan lagi. Cukup. Aku terlalu lemah untuk menjaga hatiku saat ini. Aku terlanjur membiarkan hatiku memandang dia. Aku terlanjur membiarkan hatiku menyimpan rasa padanya. Tolong jaga hatiku, tolong jangan coba-coba menyakiti hati ini. Aku hanya punya satu hati, dan hanya dia yang hatiku percaya saat ini.

Dan jikapun nanti, dia bukan milikku, biarkan hati ini terdiam dengan lukanya sendiri. Jikapun nanti aku bukan miliknya, maka biarkan juga rasa ini hilang terpendam waktu. Meski kutahu, rasa ini takkan hilang semudah itu..

Minggu, 18 Januari 2015

Aku, Jika Tanpamu

Cinta?

Sebaris kata, berjuta makna. Ya, begitu kata orang-orang padaku. Mulanya, bagiku itu hanyalah sebaris kalimat dengan beragam makna abstrak. Tapi setelah aku bertemu denganmu, setelah aku mengenal senyummu, aku merasa bahwa jutaan makna itu adalah kamu. Kamu dan senyummu, kamu dan tawamu, kamu dan candamu, kamu dan kehangatanmu, kamu dan segalanya.


Segalanya?

Baru aku sadar, kamu memang membuatku candu. Kamu membuatku tak ingin menjauh. Kamu membuatku merasa cukup. Kamu membuatku selalu merindu. Kamu membuatku merasa tak berarti jika sendiri. Kamu membuatku merasa hampa tanpa hadirmu. Kamu membuatku lumpuh saat menjauh darimu. Kamu membuatku tak bisa hidup tanpamu. Tanpamu, tanpa cinta.


Bagiku?

Jangan tanyakan padaku, apa arti dirimu bagi aku. Karna bagiku, kamu adalah warna. Bagiku, kamu adalah suara. Bagiku, kamu adalah nada. Bagiku, kamu adalah alunan musik. Bagiku, kamu adalah tawa juga canda. Bagiku, kamu adalah obat. Bagiku, kamu adalah cahaya. Bagiku, kamu adalah hidupku.


Tanpamu?

Jangan pernah bayangkan aku, tanpa dirimu. Kamu tahu kenapa? Karna kamulah hidupku. Bayangkan aku, tanpa hidupku, yaitu kamu. Tanpamu, ramaiku terasa sepi. Tanpamu, pelangiku terlihat samar, berwarna abu-abu. Tanpamu, musik terdengar mengalun tanpa nada. Tanpamu, semua canda terasa hambar tanpa tawa. Tanpamu, matahari seolah enggan bersinar untukku. Tanpamu, hidupku hampa.


Kamu?

Kamu? Oh, jangan tanyakan padanya, tanyakan saja padaku. Aku tahu kamu. Seorang laki-laki dengan senyum manis terulas di bibir. Seorang laki-laki yang penuh dengan mimpi juga harapan. Laki-laki penuh usaha dan perjuangan. Laki-laki yang menyayangi orang tuanya sepenuh hati. Laki-laki muda yang amat menyukai anak-anak. Itu kamu, kan? Kamu yang selalu ada saat aku bahkan belum berteriak memanggil namamu. Bukankah benar semua ciri-ciri yang kusebutkan itu adalah kamu? Kamu yang selalu mampu menyentuh dan menenangkan hatiku saat aku sendiri bahkan tak tahu hatiku tengah kalut berlari kemana. Itu kamu, kan? Laki-laki yang selalu menyanjung hatiku dengan kalimat canda yang selalu berhasil menuai seulas senyum di bibirku. Kamu bilang, kamu menyukai senyumku. Kamu bilang, senyumku mencerminkan semangat. Kamu, kan, yang selalu menyapaku dengan panggilan khas yang hanya kamulah yang memanggilku dengan panggilan seperti itu? Itu kamu, kan? Iya, bukankah itu kamu ; Kamu yang selalu ada di hati dan selalu kucintai itu…

Jumat, 31 Oktober 2014

In Memory, 2014

Dear, kamu..
Kau tahu?

Aku kehilangan detik..
Detik dimana aku bisa menatap binar matamu dari kejauhan..
Detik dimana aku bisa melihat tawamu dari sisi jendela..

Dear, kamu..
Aku kini juga kehilangan momen..
Momen dimana aku bisa duduk di sisimu,
Mendengar tawamu..
Dan menyimak senda gurau juga berbagai kisah yang selalu berhasil membuatku terpaku..

Aku pun kehilangan kenangan..
Kenangan dimana aku, dan kamu duduk bersama..
Menatap gelapnya langit malam sambil sesekali berbagi pandangan mata dan seulas senyum di bibir..

Aku juga kehilangan kesempatan..
Kesempatan untuk aku dan kamu membicarakan idealisme masa depan yang didamba…
Kesempatan untuk aku tahu, bagaimana pandanganmu tentang masa depan..
Kesempatan untuk aku mempelajari imajinasimu, lalu membandingkannya dengan milikku..



Ah, tidak..
Sebenarnya,..
Aku kehilangan kamu.




Ya, kamu.




Kamu yang selalu ada saat aku membutuhkan orang lain di sisiku.
Kamu yang selalu hadir bahkan sebelum aku memanggil namamu untuk menemani.
Kamu yang selalu bisa membuat suasana hatiku kembali cerah disaat aku butuh mentari dibalik tudung awan hitam di hati.
Kamu yang selalu mengerti apa yang hatiku butuhkan meski terkadang, kepalaku menginginkan hal lain.
Tapi tetap, kau selalu faham mana yang terbaik untukku.


Aku rindu kebersamaan itu..
Salahkah?
Salahkah aku merindukanmu?


Ah, mungkin bukan itu pertanyaannya..

Aku merindukanmu.
Apa kau juga merindukan aku sebagaimana aku mengharapkan hadirmu di sisiku?
Apa kau juga mencariku saat aku tak lagi ada di dekatmu?
Apa kau merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasa saat ini?
Apa hatimu menggetarkan getaran yang sama seperti hatiku yang selalu bergetar kacau saat bersamamu?
Apa kau selalu nyaman bersamaku?
Apa senyummu adalah senyum tulus yang kau lengkungkan setiap kali aku melemparkan gurauan kecil?


Bisakah ku dapatkan jawaban dari salah satu pertanyaan itu darimu?
Mungkinkah kebersamaan kita kembali hadir menimbulkan percikan hangat seperti saat sebelumnya?


Dear, kamu..
Kuharap kau mengerti maksud hatiku menuliskan baris kalimat retoris ini.
Kuharap kau faham.
Dan kuharap kau (kembali) tahu apa yang sebenarnya kuinginkan.


#InMemory 2014