Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2015

Kurasa, Itu Modal Awal Kita Untuk Masa Depan..

Kita akan terluka saat jatuh.
Begitupun hati kita yang akan terluka saat jatuh….hati
Siap mencinta, berarti siap tersakiti, dan siap dikecewakan.
Dengan segala resiko cinta, masihkah ada orang yang memilihnya?

Aku memilih kamu.
Memilih, dan menerima segala resiko yang ada.
Aku memilih untuk mencintai kamu dengan segala yang akan terjadi.
Aku memilih untuk bersamamu dengan segala keadaan kita.
Aku menerima resikonya. Semua.
Termasuk resiko bahwa kita takkan bersama.
Termasuk juga resiko bahwa kita tak berjodoh.
Juga resiko kalau suatu saat kau akan berpaling.
Atau, resiko lain yang bahkan tak sanggup kubayangkan.

Tapi aku memilih.
Dan kaupun memilih.
Setidaknya itu yang kita punya sekarang.
Dan kurasa, itu modal awal kita untuk masa depan..


Kamis, 22 Januari 2015

Sebuah Malam dan Sebuah Rindu

Malam lagi. Entah malam yang keberapa, yang jelas malam ini aku merindu lagi. Pada dirinya yang baru saja kutemui. Kata orang, kita bisa merindu orang yang baru sedetik lalu ditemui, ternyata benar. Aku merasakan rindu itu.
Ini kali kesekian aku memimpikan dirinya. Memimpikan ia yang hadir menemani sepiku disini. Kata orang juga, kita hanya akan memimpikan seseorang jika kita merindukannya. Atau minimal, memikirkannya. Aku tak sedang memikirkannya, kurasa. Aku merindukannya.
Aku benci mengakui ini, tapi aku sudah ribuan kali mengatakan kalau aku merindu. Tapi, aku bisa apa? Dia bukan milikku. Akupun bukan miliknya. Hanya harapan yang ada diantara kita.
Aku malu mengakui bahwa aku merindu, tapi apa daya, hati seolah berontak untuk segera menyampaikan getir rindu padanya. Aku merindukan candanya, aku rindu tawanya, aku rindu melihat wajah letihnya yang dihiasi senyuman, aku rindu menemani sepinya, aku rindu menghabiskan waktu berdua saja dengannya. Aku rindu segala yang ada pada dirinya.
Aku juga tak mau mengakui kalau aku tak mau kehilangan dirinya. Aku tak ingin jauh darinya. Rasa ini berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Aku benar-benar dibuat tak berdaya oleh rasa ini. Apa ini yang dikatakan cinta? Lalu, yang kemarin-kemarin itu apa? Bukan cinta-kah?
Aku menginginkan dirinya. Aku hampa, hilang tanpa sisa tanpa dirinya. Bayangkan jika segalanya terjadi padanya. Aku hilang dari hidupnya. Akankah dia merindukan aku? Akankah dia mencari aku? Akankah ia takut jika aku benar-benar pergi?
Katakan padaku, aku bisa apa selain berharap dan berdoa? Aku bisa apa selain berusaha memantaskan diri? Aku bisa apa selain memasrahkan hati pada Yang Maha Menguasai hati?
Satu hal yang ku harapkan saat ini, ku harap tak lagi hatiku tersakiti. Jangan lagi. Cukup. Aku terlalu lemah untuk menjaga hatiku saat ini. Aku terlanjur membiarkan hatiku memandang dia. Aku terlanjur membiarkan hatiku menyimpan rasa padanya. Tolong jaga hatiku, tolong jangan coba-coba menyakiti hati ini. Aku hanya punya satu hati, dan hanya dia yang hatiku percaya saat ini.

Dan jikapun nanti, dia bukan milikku, biarkan hati ini terdiam dengan lukanya sendiri. Jikapun nanti aku bukan miliknya, maka biarkan juga rasa ini hilang terpendam waktu. Meski kutahu, rasa ini takkan hilang semudah itu..

Minggu, 18 Januari 2015

Aku, Jika Tanpamu

Cinta?

Sebaris kata, berjuta makna. Ya, begitu kata orang-orang padaku. Mulanya, bagiku itu hanyalah sebaris kalimat dengan beragam makna abstrak. Tapi setelah aku bertemu denganmu, setelah aku mengenal senyummu, aku merasa bahwa jutaan makna itu adalah kamu. Kamu dan senyummu, kamu dan tawamu, kamu dan candamu, kamu dan kehangatanmu, kamu dan segalanya.


Segalanya?

Baru aku sadar, kamu memang membuatku candu. Kamu membuatku tak ingin menjauh. Kamu membuatku merasa cukup. Kamu membuatku selalu merindu. Kamu membuatku merasa tak berarti jika sendiri. Kamu membuatku merasa hampa tanpa hadirmu. Kamu membuatku lumpuh saat menjauh darimu. Kamu membuatku tak bisa hidup tanpamu. Tanpamu, tanpa cinta.


Bagiku?

Jangan tanyakan padaku, apa arti dirimu bagi aku. Karna bagiku, kamu adalah warna. Bagiku, kamu adalah suara. Bagiku, kamu adalah nada. Bagiku, kamu adalah alunan musik. Bagiku, kamu adalah tawa juga canda. Bagiku, kamu adalah obat. Bagiku, kamu adalah cahaya. Bagiku, kamu adalah hidupku.


Tanpamu?

Jangan pernah bayangkan aku, tanpa dirimu. Kamu tahu kenapa? Karna kamulah hidupku. Bayangkan aku, tanpa hidupku, yaitu kamu. Tanpamu, ramaiku terasa sepi. Tanpamu, pelangiku terlihat samar, berwarna abu-abu. Tanpamu, musik terdengar mengalun tanpa nada. Tanpamu, semua canda terasa hambar tanpa tawa. Tanpamu, matahari seolah enggan bersinar untukku. Tanpamu, hidupku hampa.


Kamu?

Kamu? Oh, jangan tanyakan padanya, tanyakan saja padaku. Aku tahu kamu. Seorang laki-laki dengan senyum manis terulas di bibir. Seorang laki-laki yang penuh dengan mimpi juga harapan. Laki-laki penuh usaha dan perjuangan. Laki-laki yang menyayangi orang tuanya sepenuh hati. Laki-laki muda yang amat menyukai anak-anak. Itu kamu, kan? Kamu yang selalu ada saat aku bahkan belum berteriak memanggil namamu. Bukankah benar semua ciri-ciri yang kusebutkan itu adalah kamu? Kamu yang selalu mampu menyentuh dan menenangkan hatiku saat aku sendiri bahkan tak tahu hatiku tengah kalut berlari kemana. Itu kamu, kan? Laki-laki yang selalu menyanjung hatiku dengan kalimat canda yang selalu berhasil menuai seulas senyum di bibirku. Kamu bilang, kamu menyukai senyumku. Kamu bilang, senyumku mencerminkan semangat. Kamu, kan, yang selalu menyapaku dengan panggilan khas yang hanya kamulah yang memanggilku dengan panggilan seperti itu? Itu kamu, kan? Iya, bukankah itu kamu ; Kamu yang selalu ada di hati dan selalu kucintai itu…

Sabtu, 01 November 2014

Catatan Cinta

“Terimakasih telah hadir di hidupku”, ujar Hati dengan wajah bersemu.

Yang diajak bicara hanya diam, bibirnya samar mengukir ulasan memanjang yang manis.

“Maaf ego-ku sering mendahului kamu”, kali ini Perasaan yang angkat bicara.

Yang diajak bicara masih diam seribu bahasa.

“yah, kau tahu? Aku seringkali berusaha menyatukan dan menengahi kalian. Tapi kalian justru yang selalu mengalahkanku”, ucap Akal sambil terkekeh geli.

Kali ini semuanya tertawa.


“kalian ini berlebihan sekali”, gumam sebuah suara.

Semua tawa mendadak terhenti.

“apa maksudmu?”, tanya Iman heran mendengar suara dari lawan bicaranya yang sejak semula terdiam.

“Aku takkan bisa ada, duduk disini bersama-sama, jika bukan karna kalian”, kata suara itu lagi.

“Kami?”

“Ya, kau tahu? Kelembutan Hati yang tergugah oleh senggolan dari Perasaan saat bertemu Dia pertama kali di koridor. Aku hadir karna sejak awal Akal menghembuskan sebaris penilaian positif saat bertemu. Dan aku akhirnya bisa duduk bersama setelah Dia membuktikan ketulusan hatinya dihadapan kalian. Tapi aku tetap tak bisa membaur sepenuhnya dengan kalian, sebab Iman memperingatkanku untuk berhati-hati dan menjaga diri. Aku masih semu, masih bisa hilang eksistensinya dengan begitu mudah. Cukup kalian pengaruhi Akal dan Hati, maka aku akan pergi. Tak ada yang bisa kalian lakukan untuk mengubah pikiran Perasaan. Ia akan tetap sama sampai kapanpun. Yang jelas, nanti mungkin akan ada satu lagi yang hadir dan menggantikan aku kelak”, papar pemilik suara.


“siapa? Bukankah kau adalah segala yang paling berpengaruh disini?”, tukas Akal seolah tak setuju.
“Namanya Luka. Luka adalah rasa sakit tak terperi yang akan dirasakan oleh Hati dan Perasaan. Bahkan mungkin akan berpengaruh padamu, Akal. Tapi dengan nama lain, manusia mengenalnya dengan istilah Trauma”, jawab suara misterius lagi.

Mata Hati menyimak tak berkedip, “Tapi kau tak benar-benar akan pergi kan? Kau ini CINTA. Cinta bagaimanapun amat dibutuhkan oleh aku, Akal, Perasaan dan bahkan oleh Iman. Kau tak bisa begitu saja pergi!”, sahutnya emosi.

“hey hey, sabarlah”, tahan pemilik suara yang bernama Cinta tadi, bibirnya mengurai kekehan kecil, “aku takkan pergi jika bukan karna alasan kuat”.

“alasan seperti apa misalnya?”, tanya Perasaan.

Kali ini Cinta berpikir sejenak, “Kecewa mungkin?”, gumamnya, “atau mungkin Cemburu? Hm, entahlah aku tak yakin”.

“aku mengerti, Cinta”, sambung Iman, “Cinta memang hadir menemani kita disini. Menghangatkan dan menyatukan kita semua, termasuk kau, Jasad”, Iman menuding ke arah Jasad yang sejak awal terdiam di sudut ruangan.


Jasad hanya angkat bahu tak bicara seolah setuju.

“Cinta hanya akan hilang oleh hal yang bisa merusak citanya. Cinta akan hilang jika kita tak menjaga apa yang ia percayakan pada kita”, Iman melanjutkan ucapannya, “aku percaya padamu, Cinta. Kita akan berjalan bersama. Aku, dan kau”


Suasana lalu mendadak hening.

“dan aku”, kata Hati.

“aku”, kali ini suara Perasaan.

“yah, aku juga”, sambung Akal, “setidaknya akan ku coba hehe”.

“Aku juga kalau begitu”, kata Jasad sambil mengibaskan tangannya yang seolah berdebu.


Cinta tersenyum memandang mata sahabat-sahabat terbaiknya, gumaman hati yang membisikkan sebaris doa agar kehadirannya kekal bersemayam sampai akhir..




#CatatanCinta 2014