Jumat, 26 Desember 2014

AKU, BUNDA, DAN GELAPNYA DUNIA

Bunda,
Kenapa dunia ini begitu ramai tanpa bentuk?
Bunda,
Kenapa tak ada satupun yang bisa ku lihat?
Bunda,
Kenapa kau bisa menemukan aku tanpa kesulitan?
Bunda,
Apa fungsi kedua kelopak yang ada di wajahku?
Bunda,
Apa dunia kita sama?
Kenapa aku merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda pada duniaku?
Bunda,
Kenapa kau ragu menjawab pertanyaanku?
Ada apa, bunda?

Bunda, pagi ini aku bertemu seseorang
Sepertinya dia bukan orang dewasa
Dari suaranya aku tahu

Bunda, dia bilang, aku buta
Apa artinya, Bunda?
Apa maksudnya aku tidak bisa melihat?
Jadi, sebenarnya, ada sesuatu untuk dilihat?

Bunda, kau dimana?
Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, Bunda
Bunda, apa warna mataku bunda?
Kata orang, warna matamu hitam pekat menawan, Bunda
Lalu, apa warna mataku?

Bunda, indahkah dunia ini?
Bunda, bagaimana bentuk binatang yang setiap pagi berkicau merdu di dahan pohon itu?
Apa dia besar?
Lalu bagaimana dengan bentuk kendaraan panjang diatas jalur besi yang biasa kita naiki saat bertamasya?
Apa sebutannya, Bunda?
Indahkah hal yang disebut-sebut sebagai kendaraan itu?

Bunda, apa begitu juga dengan Tuhan?
Atau hanya aku-kah yang tak bisa melihat-Nya?

Bunda, baikkah Tuhan itu?
Jika ‘iya’, kenapa Ia membiarkan duniaku gelap tanpa warna, Bunda?
Kenapa Ia membiarkan aku sendiri tanpa kawan, Bunda?


Jadi,
Tuhan menciptakan aku tanpa dunia yang berwarna, sebab Ia mencintaiku
Tuhan tak mau aku terkotori dengan pandangan yang merusak mata
Tuhan tak ingin aku menumpuk dosa dengan menatap sesuatu yang tak seharusnya kutatap
Tuhan ingin menjadikan aku sebagai teguran bagi mereka yang dapat melihat
Agar mereka selalu bersyukur dan terus memandang kebawah sebagai pengingat
Benar begitu kan, Bunda?
Bunda, kini aku faham

Terimakasih atas penjelasanmu, Bunda
Bunda, terimakasih atas semangatmu
Terimakasih atas senyum indah yang selalu teraba di jemariku
Bunda, terimakasih sudah mengenalkanku pada Tuhan
Aku mengerti dunia kita berbeda, Bunda

Tapi satu hal, aku tahu hati kita sama

DENGARKAN HATIKU, KAWAN

Kawan, lihat aku
Aku memanggilmu tanpa suara

Kawan, dengarkan aku
Aku bernyanyi tanpa nada

Kawan, perhatikan aku
Aku sedang bicara tanpa kata

Dengar, kawan
Aku bisa bergumam!
Pahamkah engkau?
Aku sedang bergumam padamu
Aku sedang menyampaikan sebuah cerita padamu

Perhatikan gerakan tubuhku, kawan
Meski nampak kacau, tapi aku sedang berusaha menyelipkan baris kata disana
Meski tak begitu jelas, tapi aku sedang berusaha berbicara padamu
Ini bahasa cintaku, kawan
Kawan, tatap mataku
Ada sejuta keluh tentang heningnya duniaku
Tatap mataku, kawan
Ada banyak kesah yang ingin kusampaikan padamu

Aku tahu aku tak bisa memaksamu untuk memahamiku
Aku tahu..
Tapi maukah kau tetap disini, kawan?
Menemani aku dan heningnya duniaku

Setidaknya, dengan adanya hadirmu, duniaku tak lagi sepi
Sekalipun hening melanda, tapi ada keramaian tawa tanpa suara di dalamnya
Tetaplah disini, kawan
Bantu aku menciptakan warna di telingaku
Bantu aku untuk bertahan menghadapi tatapan mata sinis dan cemooh meremehkan
Bantu aku untuk tetap bersyukur atas pemberian-Nya

Agar tak lagi aku terbawa emosi dan lupa akan hadirnya Tuhan di duniaku

Jumat, 12 Desember 2014

Mangkuk, Madu dan Sehelai Rambut

Perbandingan antara sebuah mangkuk, madu, dan sehelai rambut
-          Abu Bakar Ash-Shiddiq     :      Keimanan, lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Orang yang beriman lebih manis daripada madu. Dan mempertahankan keimanan lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.
-          Umar bin Khattab         :      Kerajaan lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Seorang Raja lebih manis daripada madu. Tapi menjadi pemimpin yang adil lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.
-          Utsman bin ‘Affan         :      Ilmu lebih cantik daripada mangkuk. Orang yang berilmu lebih manis daripada madu. Tapi mencari orang yang mengamalkan ilmunya lebih sulit dari meniti sehelai rambut.
-          Ali bin Abi Thalib          :      Tamu lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Menjamu tamu lebih manis daripada madu. Dan membuat tamu senang serta kembali ke rumah untuk bertamu lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.
-          Fatimah Az-Zahra        :      Seorang wanita sholihah lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Wanita yang berkerudung dan menutup aurat lebih manis daripada madu. Tapi mendapatkan wanita yang tak pernah disentuh laki-laki selain mahromnya lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.
-          Rasulullah S.A.W           :      Orang yang mendapat taufik lebih cantik daripada mangkuk. Orang yang beramal dengan amal perbuatan lebih manis daripada madu. Tapi beramal dengan ikhlas lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.
-          Malaikat Jibril alaihissalam :      menegakkan pilar-pilar Islam lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Menyerahkan diri, harta, waktu serta dunianya demi Islam lebih manis daripada madu. Dan mempertahankan Islam juga Aqidah lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.

-          Allah ta’ala                :      Syurga lebih cantik daripada sebuah mangkuk. Nikmatnya syurga lebih manis daripada madu. Tapi meniti jalan ke syurga lebih sulit daripada meniti sehelai rambut.

I Miss You

I hear your voice on the phone,
It makes me want to cry..
Although I’m strong.
It hurts, but still, I want to see you..
When did you say we’d be together again?
You shouldn’t answer, right?
I can’t hide it,
Everytime, I remember that face,
I miss you..
Dreaming of you tomorrow,
I want to believe that you’ve stopped along the way.
Dreaming of you tomorrow,
I want to be starring at you.

Because all I see is sun light beyond the trees

Rabu, 05 November 2014

Sepucuk Surat Dariku, Untuk Kamu

Kepada yang Terhormat,
Engkau yang tak pernah mengerti, apa arti dari kata ‘Perempuan’
Di,
Tempat


Dear ‘Engkau’,

Hey, apa kabar?
Kau masih mengingat aku?
Kuharap sama halnya seperti aku yang mengingat kali pertama kita berjumpa.
Aku ingat kamu, pemuda lugu yang penuh dengan keceriaan.
Berjalan lurus ke arahku sambil melambaikan tangan perlahan dan duduk tak jauh dari tempatku berada.
Malu-malu, kau memandangku, dan menanyakan ‘ada apa’ padaku.
Dan kemudian, berjuta semangat menyerbuku dengan hantaman senyum ketika kau mendengar bahwa antusiasmeku sedang menghilang entah kemana.
Kau penuhi mata kecilku dengan mata yang penuh binar, dan kau warnai telingaku dengan tawa kecil yang mengalir dari bibirmu.
Aku tahu, kau menahan diri untuk mengelus puncak kepalaku.
Benar kan?

Ah, aku jadi larut di masa lalu.
Aku jadi teringat masa sekarang.
Aku yang terlalu rapuh untuk tetap kukuh ber-topeng-anonymous-di-wajah.
Dan kamu.
Kamu yang tak pernah letih menahan ‘topeng’ itu agar tetap terpasang menutupi wajahku.

Apa aku serapuh itu di matamu?
Aku selalu berusaha nampak kuat.
Berusaha agar seolah terlihat, ‘aku tanpa beban’.

Apa sejelas itu aku terlihat rapuh?

Pernahkah kau membaca sebuah artikel tentang wanita?
Wanita adalah makhluk yang rapuh, juga labil.
Wanita adalah makhluk yang pandai memendam rasa.
Wanita adalah makhluk yang amat perasa.

Dan kau tahu?
Bagaimanapun, aku sama seperti wanita pada umumnya.
Aku lemah.
Aku rapuh.
Aku labil.
Aku memendam rasa.
Se’kuat-kuat’nya aku,
Se’bahagia-bahagia’nya aku,
Se’keras-keras’nya tawaku,
Aku punya berjuta keluh juga kesah yang kupupuk dalam dada.

Aku, dan hatiku.
Juga kamu.
Adalah tiga hal, yang entah mengapa, tak pernah bisa terpisahkan dari kepalaku.
Yang entah mengapa, selalu berhasil membuatku gamang.
Yang entah mengapa, selalu mempengaruhi suasana hatiku.

Kau tahu?
Malam ini, aku ingin berbagi kisah.
Mulanya.
Tapi kuurungkan.
Karna aku tak siap untuk membuka diri, dan berbagi rasa denganmu.
Mungkin belum waktunya.

Jadi, biarkan malam ini aku menyimpan semuanya sendiri seperti sebelumnya.
Biarkan aku terbungkam dengan tatapan mata sunyi seperti biasanya.
Biarkan aku menjauh dari keramaian.
Biarkan aku memiliki waktuku sendiri.

Tapi, tolong..

Tetaplah bertahan di sisiku.
 Setidaknya sampai nanti, aku sudah mampu bangun dan kembali melangkah sendiri seperti semula.

Tetaplah disini.
Bersamaku, mengukir kembali senyum dan keceriaan yang semula ada di sisi hati dalam dadaku.

Tetaplah menemaniku.
Mendampingiku, sampai semua rasa resah ini berlalu pergi meninggalkan aku bersama kamu, dan cerita baru yang kembali berwarna.

Terimakasih,

Tertanda,





( Aku )

Sabtu, 01 November 2014

Catatan Cinta

“Terimakasih telah hadir di hidupku”, ujar Hati dengan wajah bersemu.

Yang diajak bicara hanya diam, bibirnya samar mengukir ulasan memanjang yang manis.

“Maaf ego-ku sering mendahului kamu”, kali ini Perasaan yang angkat bicara.

Yang diajak bicara masih diam seribu bahasa.

“yah, kau tahu? Aku seringkali berusaha menyatukan dan menengahi kalian. Tapi kalian justru yang selalu mengalahkanku”, ucap Akal sambil terkekeh geli.

Kali ini semuanya tertawa.


“kalian ini berlebihan sekali”, gumam sebuah suara.

Semua tawa mendadak terhenti.

“apa maksudmu?”, tanya Iman heran mendengar suara dari lawan bicaranya yang sejak semula terdiam.

“Aku takkan bisa ada, duduk disini bersama-sama, jika bukan karna kalian”, kata suara itu lagi.

“Kami?”

“Ya, kau tahu? Kelembutan Hati yang tergugah oleh senggolan dari Perasaan saat bertemu Dia pertama kali di koridor. Aku hadir karna sejak awal Akal menghembuskan sebaris penilaian positif saat bertemu. Dan aku akhirnya bisa duduk bersama setelah Dia membuktikan ketulusan hatinya dihadapan kalian. Tapi aku tetap tak bisa membaur sepenuhnya dengan kalian, sebab Iman memperingatkanku untuk berhati-hati dan menjaga diri. Aku masih semu, masih bisa hilang eksistensinya dengan begitu mudah. Cukup kalian pengaruhi Akal dan Hati, maka aku akan pergi. Tak ada yang bisa kalian lakukan untuk mengubah pikiran Perasaan. Ia akan tetap sama sampai kapanpun. Yang jelas, nanti mungkin akan ada satu lagi yang hadir dan menggantikan aku kelak”, papar pemilik suara.


“siapa? Bukankah kau adalah segala yang paling berpengaruh disini?”, tukas Akal seolah tak setuju.
“Namanya Luka. Luka adalah rasa sakit tak terperi yang akan dirasakan oleh Hati dan Perasaan. Bahkan mungkin akan berpengaruh padamu, Akal. Tapi dengan nama lain, manusia mengenalnya dengan istilah Trauma”, jawab suara misterius lagi.

Mata Hati menyimak tak berkedip, “Tapi kau tak benar-benar akan pergi kan? Kau ini CINTA. Cinta bagaimanapun amat dibutuhkan oleh aku, Akal, Perasaan dan bahkan oleh Iman. Kau tak bisa begitu saja pergi!”, sahutnya emosi.

“hey hey, sabarlah”, tahan pemilik suara yang bernama Cinta tadi, bibirnya mengurai kekehan kecil, “aku takkan pergi jika bukan karna alasan kuat”.

“alasan seperti apa misalnya?”, tanya Perasaan.

Kali ini Cinta berpikir sejenak, “Kecewa mungkin?”, gumamnya, “atau mungkin Cemburu? Hm, entahlah aku tak yakin”.

“aku mengerti, Cinta”, sambung Iman, “Cinta memang hadir menemani kita disini. Menghangatkan dan menyatukan kita semua, termasuk kau, Jasad”, Iman menuding ke arah Jasad yang sejak awal terdiam di sudut ruangan.


Jasad hanya angkat bahu tak bicara seolah setuju.

“Cinta hanya akan hilang oleh hal yang bisa merusak citanya. Cinta akan hilang jika kita tak menjaga apa yang ia percayakan pada kita”, Iman melanjutkan ucapannya, “aku percaya padamu, Cinta. Kita akan berjalan bersama. Aku, dan kau”


Suasana lalu mendadak hening.

“dan aku”, kata Hati.

“aku”, kali ini suara Perasaan.

“yah, aku juga”, sambung Akal, “setidaknya akan ku coba hehe”.

“Aku juga kalau begitu”, kata Jasad sambil mengibaskan tangannya yang seolah berdebu.


Cinta tersenyum memandang mata sahabat-sahabat terbaiknya, gumaman hati yang membisikkan sebaris doa agar kehadirannya kekal bersemayam sampai akhir..




#CatatanCinta 2014


Jumat, 31 Oktober 2014

In Memory, 2014

Dear, kamu..
Kau tahu?

Aku kehilangan detik..
Detik dimana aku bisa menatap binar matamu dari kejauhan..
Detik dimana aku bisa melihat tawamu dari sisi jendela..

Dear, kamu..
Aku kini juga kehilangan momen..
Momen dimana aku bisa duduk di sisimu,
Mendengar tawamu..
Dan menyimak senda gurau juga berbagai kisah yang selalu berhasil membuatku terpaku..

Aku pun kehilangan kenangan..
Kenangan dimana aku, dan kamu duduk bersama..
Menatap gelapnya langit malam sambil sesekali berbagi pandangan mata dan seulas senyum di bibir..

Aku juga kehilangan kesempatan..
Kesempatan untuk aku dan kamu membicarakan idealisme masa depan yang didamba…
Kesempatan untuk aku tahu, bagaimana pandanganmu tentang masa depan..
Kesempatan untuk aku mempelajari imajinasimu, lalu membandingkannya dengan milikku..



Ah, tidak..
Sebenarnya,..
Aku kehilangan kamu.




Ya, kamu.




Kamu yang selalu ada saat aku membutuhkan orang lain di sisiku.
Kamu yang selalu hadir bahkan sebelum aku memanggil namamu untuk menemani.
Kamu yang selalu bisa membuat suasana hatiku kembali cerah disaat aku butuh mentari dibalik tudung awan hitam di hati.
Kamu yang selalu mengerti apa yang hatiku butuhkan meski terkadang, kepalaku menginginkan hal lain.
Tapi tetap, kau selalu faham mana yang terbaik untukku.


Aku rindu kebersamaan itu..
Salahkah?
Salahkah aku merindukanmu?


Ah, mungkin bukan itu pertanyaannya..

Aku merindukanmu.
Apa kau juga merindukan aku sebagaimana aku mengharapkan hadirmu di sisiku?
Apa kau juga mencariku saat aku tak lagi ada di dekatmu?
Apa kau merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasa saat ini?
Apa hatimu menggetarkan getaran yang sama seperti hatiku yang selalu bergetar kacau saat bersamamu?
Apa kau selalu nyaman bersamaku?
Apa senyummu adalah senyum tulus yang kau lengkungkan setiap kali aku melemparkan gurauan kecil?


Bisakah ku dapatkan jawaban dari salah satu pertanyaan itu darimu?
Mungkinkah kebersamaan kita kembali hadir menimbulkan percikan hangat seperti saat sebelumnya?


Dear, kamu..
Kuharap kau mengerti maksud hatiku menuliskan baris kalimat retoris ini.
Kuharap kau faham.
Dan kuharap kau (kembali) tahu apa yang sebenarnya kuinginkan.


#InMemory 2014